Author Archive
Doa
Bisa Berbahaya
Inilah cerita yang
sangat disukai oleh Guru Sufi Sa’di dari
Shiraz
:
Salah seorang sahabatku senang sekali karena isterinya mengandung. Ia ingin
sekali mendapatkan anak laki-laki. Tak henti-hentinya ia berdoa kepada Tuhan
dan menjanjikan berbagai kaul dengan ujud itu.
Maka terjadilah, bahwa isterinya melahirkan seorang anak laki-laki. Sahabatku
bergembira sekali dan mengundang seluruh penduduk kampung untuk merayakan pesta
syukur. Bertahun-tahun kemudian, sekembaliku dari Mekah, aku melewati kampung
sahabatku itu. Aku diberitahu bahwa ia dipenjara.
‘Mengapa? Apa kesalahannya?’ tanyaku.
Tetangganya berkata: ‘Anaknya mabuk, membunuh orang, kemudian melarikan diri.
Maka ayahnya lalu ditangkap dan dipenjarakan.’
Meminta kepada Tuhan dengan tekun apa yang kita inginkan merupakan perbuatan
yang patut dipuji. Tetapi doa seperti itu juga amat berbahaya.
dikutip dari Buku "BURUNG BERKICAU"-Anthony De Mello
No Comments »
Posted by: andhys in OPINI
In Memoriam OEI TJOE TAT
02-Jun-96
Dialog dengan Saksi dan Pelaku Sejarah
"Tinggalkan Warisan Pengalaman bagi Generasi Muda"
[Meskipun bakal menghadapi resiko seperti di atas, Pak Oei tetap tidak
'buka mulut' terhadap tugas yang dibebankan oleh Soekarno padanya. Soekarno
memang tidak salah memilih Pak Oei dalam menjalankan silent diplomatic mission
ini, sebab seperti dikemukakan oleh Ong Hok Ham, Soekarno tahu bahwa loyalitas
Oei Tjoe Tat pada partai akan berakhir bila negara telah memintanya.
"Soekarno memang pandai," ungkap Pak Oei. Di jaman itu, memang sulit
mencari orang partai yang loyal kepada negara.
Biasanya orang lebih ingin memajukan kepentingan partainya masing-masing.
Jadi, tindakan Pak Oei yang juga tidak memberitahu PARTINDO dan BAPERKI akan
tugas rahasianya, memang sesuatu yang langka. Pak Oei sendiri menyebut dirinya
'apolitis' karena sikapnya itu."Tapi bukan berarti lugu politik '
kan
?"
begitu pancing kami.
Ada
sebuah pengalaman lagi
yang menunjukkan betapa Pak Oei amat memahami tindakan serta situasi yang
menyertai setiap keputusan politik Soekarno. Dalam resepsi di kedutaan besar
Mesir, Aidit pernah mendekati Pak Oei. Ia bertanya, "Nasakom (kabinetnya)
itu kapan? '
Kan
presidennya Pak
Oei itu sudah berkali-kali berkaok-kaok. Tapi kok cuma bernyanyi-nyanyi
meninabobokan rakyat
Indonesia
."
Ini membuat marah Pak Oei. "Apa itu bukan juga presidennya Aidit?" Ia
katakan, Aidit cuma bisa mengkritik dari luar, meminta PKI duduk dalam kabinet.
"Tapi Soekarno yang duduk dikursi adalah pelaku. Dia harus memperhitungkan
betul-betul. Kalau PKI dimasukkan, tentara berontak. Kalau tentara berontak,
menang mana? '
Kan
lain..".
Pelaku itu memang lain posisinya. Karena situasinya beda dengan pengamat yang
mengambil jarak dari situasi. Seorang pelaku, "harus memperhitungkan
betul-betul segala sesuatunya secara teliti. Lebih kompleks." Baginya
Aidit sebagai seorang anggota parlemen, saat itu adalah semata-mata pengamat.
Ditambahkannya, "Pengamat mungkin obyektif, tapi kami yang menghayati
situasi, mohon diberi pengertian..."]
Sekarang soal G30S/PKI. Adakah RRC mempunyai hubungan dengan peristiwa ini?
OTT: Banyak orang selalu menyatakan bahwa G30S didalangi atau direstui
oleh RRC. Konfrontasi pun dikatakan demikian. Saya tidak mengerti seluk
beluk yang persis. Tapi dalam konfrontasi, pernah. Pak Karno bilang pada
saya (agar RRC diminta bantuannya dalam konfrontasi). Pada suatu resepsi
di kedutaan besar RRC, saya mendekati salah satu menteri yang pada waktu
itu datang. Saya bilang, "RRC sama kita seperti kawan seperjuangan.
Tapi dalam konfrontasi ini, nampaknya RRC kok seperti hanya melihat saja.
Apakah tidak bisa memberi tanda simpati. Paling tidak memberi senjata."
Dia jawab begini - yang menurut saya merupakan petunjuk RRC tidak mendukung
kebijakan konfrontasi -, "jelas kita tetap kawan seperjuangan. Kalau
Indonesia
perlu senjata, kita kasih. Tapi
Indonesia
harus mengambil sendiri senjata itu. Dan kita cuma bisa memberi senjata ringan.
Kenapa? Kita tidak setuju cara konfrontasi
Indonesia
yang dititikberatkan di
Malaya
, di mana infrastrukturnya
sudah sempurna. Dan tidak mungkin
Indonesia
bisa menguasainya. Kalau
Indonesia
sungguh-sungguh mau konfrontasi, harus gerilya di hutan-hutan
Kalimantan
.
Dan untuk perang di hutan ini, kami bersedia memberikan senjata ringan dan
silakan ambil sendiri." Jadi nadanya, nada sinis. Bagi saya ini bukti
bahwa RRC tidak setuju.
…Sekarang mengenai G30S. Logikanya, RRC melihat Soekarno
sebagai kawan seperjuangan. Meskipun RRC kuat dan sebagainya, tapi adanya
Soekarno itu melindungi sebelah Selatan RRC. Kalau tidak ada Soekarno, itu
Amerika yang menguasai. Jadi melihat
Indonesia
sebagai partner, paling sedikit. Buat apa RRC ikut mendongkel Soekarno. Dia
butuh Soekarno. Ini kita hitung dengan logika saja. Motifnya bukan karena dia
cinta sama Soekarno atau
Indonesia
.
Tapi untuk kepentingan negaranya sendiri, mereka tidak mau menghilangkan
kekuasaan Soekarno. Kedua. Saya dengar dari Ali Ihram (?), intel. Dia
diberitahu waktu Chen Yi - Menteri Luar Negeri RRC - datang di sini, dia
menegur Aidit, "kalian mesti sadar, PKI ada karena toleransi Soekarno.
Karena Soekarno membutuhkan kalian untuk mengimbangi golongan-golongan kanan.
Maka saya minta, PKI tidak boleh berbuat sesuatu tanpa memberitahu Soekarno.
Kamu sendiri saja, tidak bisa enyelesaikan." Jadi, garis besarnya, ia
tidak setuju kalau PKI mengganjal Soekarno.
Ada
beberapa petunjuk bahwa RRC tidak terlibat dalam G30S. Bahwa mereka seolah-olah
sudah tahu lebih dahulu beberapa jam sebelum aksi meletus, itu saya bisa
mengerti. Sebab mereka juga punya intel.
[Bahwa Soekarno merasa dibutuhkan oleh RRC, disadari betul olehnya.
Jika seorang menteri koordinator seperti Pak Marno harus dengan ulet dan ngotot
mencari pinjaman pada menteri keuangan RRC, maka Soekarno hanya dengan menepuk
bahu Chou En Lai, dan berkata, "hey, masa' ndak 'ngerti kesulitan
Indonesia
.
Kami ndak usah meminjam lah, tapi tolong hutang kita dihapus semua." Dan,
Chou En lai memang tidak bisa berkutik lagi. Sampai-sampai Pak Marno, merasa
bahwa mestinya Soekarno tidak perlu lagi menteri keuangan.]
Apa yang anda ketahui mengenai skenario G30S ini? Siapa sebetulnya
yang harus bertanggung jawab?
OTT: Perlu kalian mengetahui lebih dahulu, bahwa saya mengetahui sedikit
tentang banyak sekali masalah. Tapi, saya tidak mengetahui cukup tentang satu
masalah pun. Karena tugas saya itu begitu. Saya tidak ada waktu cukup, tidak
ada staf cukup untuk mengetahui satu masalah dengan cukup. Tugas saya hanya
membantu empat orang (Soekarno, Soebandrio, Leimena dan Chaerul Saleh sebagai
Perdana Menteri dan wakil-wakil Perdana Menteri-red.). Saya ini diharuskan
mengikuti segala sidang. ‘
Kan
nggak mungkin. Bahkan kalau Chaerul Saleh harus meninjau daerah, saya harus
ikut. Nah, kalau pertanyaannya bagaimana mengenai G30S, …istri saya yang
(mungkin) lebih tahu. Tanggal 27 sampai 28 September, saya tugas di Hongkong.
Duapuluhdelapan September malam saya baru tiba. Dan menurut aturan, kalau saya
dari luar negeri, esok harinya harus lapor pada presiden. Jam tujuh malam itu
saya menelpon istana dan minta audiensi pada tanggal 29. Dijawab bahwa tanggal
29 itu sudah full, Pak Oei supaya datang pada tanggal 30 saja. Istri saya pada
28 September, rapat di gedung Sin Ming Hui - Sin Ming Hui anggotanya pribumi
juga ada. Nah, di situ, ada seorang Gerwani, seorang dokter. Dia tanya pada
istri saya, "malam ini Pak Oei ‘nginap di mana?" Istri saya ‘
kan
ndak ‘ngerti. "Ya, ‘nginap di jalan Blitar." Pertanyaan itu terus
diulang-ulang. Baru setelah berbulan-bulan setelah peristiwa (G30S) itu istri
saya berpikir, kalau begitu mungkin Gerwani sudah mengetahui sebelumnya.
…Saya pernah ditanyai oleh Pak Harto tentang kapan Bung Karno mengomandokan
rakyat - oleh karena Pak Karno selalu bilang supaya rakyat tetap tenang sambil
dia nanti akan memberi keputusan. Saya bilang pada Pak Harto, tanpa Pak Harto
tanyai, saya sudah berkali-kali tanya sama Bung Karno. Kapan itu diberikan
kepada rakyat. Sebab rakyat itu gelisah. Mereka tidak tahu apa dan siapa yang
salah, apa yang mereka harus perbuat dan sebagainya. Pak Harto mengatakan,
"selama belum ada komando dari presiden, anak buah saya masih terus
dibantai oleh PKI." Kemudian Pak Harto bertanya lagi, "kenapa Pak
Karno tidak membubarkan PKI ini? PKI ini sudah menusuk kita dua kali. Satu kali
ketika kita melawan Belanda, peristiwa Madiun. Yang kedua kalinya ini. Apa
belum cukup korban?" Saya katakan begini, "saya tidak tahu kenapa kok
Pak Karno masih menunda-nunda." Lalu dia bilang, "kalau pak Oei
sendiri setuju nggak, PKI dibubarkan?" Saya bilang, "karena saya ini
pembantu presiden tidak bisa menyuarakan sendiri. Pak Karno dan Jenderal
Soeharto masing-masing punya staf. Juga intel. Staf saya hanya 8, bagaimana
saya mau mengetahui PKI salah atau tidak. Kalau Pak Harto dan Pak Karno bilang
PKI salah, saya bilang salah. Kalau Pak Harto dan Pak Karno bilang tidak salah,
saya bilang tidak salah." …Kembali ke pertanyaan tadi. Sementara, sampai
detik ini, kalau tidak ada lain bukti lagi, saya masih berpegang pada pendirian
Soekarno. Soekarno yang saya kenal sebagai orang yang emosional, itu dalam
sidang-sidang kabinet setelah G30S, selalu marah dan mengatakan "gara-gara
semua ini. kita mundur." Tapi, selalu dia menyalahkan tiga unsur.
Unsur-unsur luar negeri, terutama CIA Amerika, kemudian unsur-unsur dalam
negeri terutama oknum-oknum angkatan darat yang tidak betul, kemudian - dia
bilang - ada orang-orang PKI yang keblinger.
Sampai detik ini pun saya masih berpegang pada itu kecuali ada bukti-bukti
baru. Dan Soekarno tidak hanya begitu saja, dia bisa menunjukkan dalam sidang
kabinet, kuitansi dari beberapa ratus ribu… yang diberi oleh Amerika kepada
’seseorang’ dari kita. Dan dia menggunakan kata-kata latin yang artinya.
"uang itu tidak berbau busuk." Artinya, uang itu enak. Orang
Indonesia
yang dikasih sekian untuk menjual negaranya, mau saja. (Lagi) …dan ada
seorang yang bilang sama Ny. Soebandrio, "jangan mengira
Soekarno itu akan selalu menguasai
Indonesia
.
Mungkin dalam beberapa minggu akan…" Nah, Soekarno dalam kabinet bilang,
"ini orang kok bisa predict, bisa meramalkan begitu kenapa?" …Sudah
baca The Troyan Horse? …Bahwa Amerika ini, bukan hanya satu dua tahun, sudah
belasan tahun menyiapkan segala sesuatunya. Di bidang budaya, perguruan tinggi,
segala-galanya.
Tadi dikatakan Soekarno memberi peluang kepada PKI untuk tetap eksis.
Apakah ini karena PKI dan Soekarno mempunyai paham yang sama?
OTT: Dalam hal anti kapitalis, ya sama. Tapi tidak semua sama. Bung Karno
orang yang religius, PKI tidak. Bung Karno anti kekerasan. PKI jelas tidak.
Saya bukan memusuhi PKI, Marxisme atau Leninisme. Saya kagum. Tapi PKI dalam
beberapa praktek, saya ndak bisa setuju. Di mana dia kuasa sedikit, dia akan
memaksa. Contoh… Saya dekat lho dengan Nyoto - dengan Aidit kurang. Waktu di
Bali diadakan Pemilihan Umum DPRD - pada waktu itu yang berkuasa di
Bali
:
PKI, PNI, NU -, mereka mengatakan NASAKOM haruslah Nas-nya PNI, A-nya hanya NU,
kemudian Kom-nya harus PKI. Kemudian ada PARTINDO partai saya. Tapi, tidak
boleh masuk. Wah ini bertentangan dengan penafsiran Bung Karno. Waktu itu saya
kasih tahu Nyoto. "Sekarang saya minta kepada Pak Nyoto untuk kasih
pengertian pada PKI di
sana
."
Dia tanya apa betul terjadi begitu. Saya bilang betul. Saya kasih tempo. Bila
tidak ada juga jawaban memuaskan, saya akan kasih tahu Pak Karno. Karena ia
yang paling pandai menafsirkan apa yang dimaksud NASAKOM. Setelah satu minggu,
saya ke Bung Karno. Saya ceritakan pada Bung Karno. Ia bilang, "Nyoto itu
orang intelektuil, apa dia ndak pura-pura?" Saya bilang belum tentu. Dua hari
kemudian Nyoto menelpon, "Pak Oei, ndak usah dong ngomong-ngomong sama Pak
Karno. Saya sudah tegor temen-temen di
Bali
." Ini
contoh bahwa PKI kadang-kadang… wajar. Tapi, jangan begitu. Juga di Bali, PNI
paling
berkuasa. Pamong praja yang dikuasai oleh mereka. Dan seperti saya katakan,
kalau saya apolitis, PNI itu sangat politis. Semua kebutuhan pokok pamong praja
dikuasai, juga fasilitasnya. Kalau perlu pedagangnya. Tidak beda dengan Golkar
sekarang. PNI juga seperti itu. Nah, PKI yang nomor dua di
sana
.
Dia (PKI) mengejek, meremehkan, menyinggung perasaan orang-orang
Bali
yang bukan Islam. Seperti mengejek sesajennya orang
Bali
.
Apakah mereka mau menyembah patung, (seharusnya) itu bukan urusan kita dong.
Itu pengalaman saya dengan PKI. Dengan (tidak mengurangi) catatan bahwa PKI
sangat berjasa bagai kemerdekaan
Indonesia
.
Dan orang-orangnya brilyan. Serius. Dalam keseriusan pada urusan partai, kita
kalah. Cuma saya nggak senangnya, mereka suka memaksa. Bagi mereka hanya ada
‘lawan’ atau ‘kawan’.
……………………………..sensor pengirim…………………………………………
Kembali ke soal Soekarno. Masih ada suara-suara yang kami dengar dari
beberapa orang, tokoh yang merasa, pada jaman Orde Lama, mereka itu ditindas.
Tapi, sebaliknya dari cerita orang-orang yang dekat dengan Soekarno - seperti
Pak Oei sendiri - Soekarno bukan tipe yang demikian.
Nah, sebetulnya, penindasan yang disebut-sebut pada jaman Orla itu produk dari
mana?
OTT: Saya tidak akan jawab langsung. Begini. Saya selalu mengatakan, menulis
buku ini, bukan uraian politik. Bukan buku sejarah. Tapi hanya rekaman belaka
dari apa yang saya lihat dan saya dengar, dengan telinga saya dan mata saya.
Dus, sangat subyektif. Apalagi dengan memori saya.
Kalau saya menulis tentang Soekarno, saya menulis seperti dia ‘memperlihatkan’
kepada saya. Apa yang saya dengar dari dia, apa yang saya lihat. Saya tidak
bisa menulis tentang Soekarno, apa yang tidak saya lihat.
Seandainya dia jual negara ini, mungkin saja. Di luar pengetahuan saya.
Kalau dia misalnya mencuri, mungkin. Ini aku nggak tahu. Juga kalau saya
menulis tentang Beek. Seperti saya juga menulis tentang Harto, saya juga
melihat Harto dari (cara) ini. Saya menulis apa adanya menurut penglihatan dan
pendengaran saya. Tapi kalau menurut orang-orang dan kejadian-kejadian itu
ternyata lain, mungkin benar. …Tentang Soekarno. Saya melihat Soekarno dalam
berbagai dimensi. Sebagai pemimpin, sebagai manusia.
Totaliter? Apa dia totaliter? Waktu dia mendesak saya sebagai menteri, the
first moment saya berbicara empat mata dengan dia, saat itu mungkin dia bisa
otoriter. Tapi, selama saya dekat dengan beliau, mungkin saya satu-satunya
orang
Indonesia
yang bisa omong tentang segala hal, yang enak, yang tidak enak, yang mungkin
menyinggung. Dia tak pernah marah. Satu hal. Dengan Soekarno, kita bisa
berdebat tentang segala hal, asal tidak mau diketahui bahwa dia kalah dari
kita. Kalau empat mata dia mau. Tapi, kalau
ada lain orang, dia mintanya mau menang. Dia ndak mau dipermalukan di depan
orang lain. Kalau sendiri dia sangat demokratis. Kalau kita berani, dia akan
menghormat kita. Dia seperti psikolog. Maunya menguji jiwa orang. Dan ternyata,
sewaktu dia keras, otoriter terhadap saya, saya pikir, oh dia ini mau menguji.
Supaya dari sejak semula, sudah ditanamkan dalam benak saya, "I’m your
boss." Tapi, kalau dia totaliter dalam soal lain, saya tidak tahu. Nyamuk,
dia ndak mau dimatikan. Dia tidak mau melihat life itu dimatikan. Seperti orang
Budha. Dia ndak rela darah
Indonesia
mengalir.
Lebih baik turun sebagai presiden. Kalau kita untuk mendesak dia, dia hanya
menggigiti kukunya. Dan saya tidak tega mendesak dia lebih jauh. Totaliter?
…Prof. Lev menulis pada saya, "Pak Oei selalu berbicara
tapol/napol, seolah-olah di jamannya Soekarno tidak ada tapol." Saya
jawab, "ada." Tapol Soekarno dengan tapol Orde Baru, lain. Saya belum
pernah ditahan Orla. Tapi, Almarhum Mayor Soemardjo, komandan Kam di Nirbaya,
komandan Kam Sarangan, dia cerita pada saya, "tapol Soekarno itu - seperti
Mohtar Lubis - boleh keluar dasn dipilah-pilah, lux. Hawanya enak, lalu
makanannya semua dari restoran. Rokoknya Dunhill, Lucky Strike."
Soemardjo, setiap sepuluh hari harus lapor ke
Jakarta
.
Tiap kali dia ke istana, dia digertak oleh Soekarno, "kamu apakan
orang-orang itu? Makanannya bagaimana? Awas, ini orang-orang bukan penjahat.
Orang-orang ini, kalau terjadi perubahan-perubahan politik, ini
pemimpin-pemimpinmu. Yang kuasa itu mereka. Mereka kami tahan karena menyabot
politik kita. Mereka cuma berbeda paham politik. Jadi kamu mesti hormat pada
mereka." Kalau kita di Nirbaya, radio, koran semua nggak boleh masuk.
Bahkan, permulaannya hanya Al’quran dan Injil yang boleh masuk. Buku-buku
teologi muslim tidak. Teologi Kristen tidak. Di Sarangan, Anak Agung Gede Agung
jadi sarjana, karena buku-buku pengetahuan dimasukkan berpeti-peti. Mereka
boleh naik kuda dengan radius 10 km, asal tidak mempengaruhi penduduk di
sana
.
Saya tulis pada Lev, "lain, dong."
Cukup. Cukup sampai di sini. Masih banyak sebetulnya yang perlukami
gali dari orang ini. Memang seperti yang dikatakannya sendiri, pengalamannya
adalah sangat subyektif untuk kami jadikan bahan rekonstruksi sejarah. T api,
kami memang tidak berpretensi untuk merekonstruksi sejarah. Sejarah punya ceritanya
sendiri, punya jalannya sendiri yang jauh lebih kompleks dari sekedar data-data
statistik dan momen-momen tertentu yang setiap saat diperingati. Tak peduli ada
pihak-pihak yang ingin merekayasa dan menafsirkannya secara sepihak. Kami
justru ingin melihat, semangat jaman dari masing-masing subyek yang ‘hadir’ dan
ikut andil dalam pembentukan sejarah itu. Kami butuh ‘rasa’ -tak ada sejarah
yang bergerak tanpa rasa - untuk mewarnai kusamnya sejarah kita kini yang serba
materialistis, instant dan teknokratis. Yang tidak mungkin kami peroleh dari
‘obyektifitas’ tapi justru dari dialog tanpa henti dengan berbagai macam
’subyektifitas’. Mungkin saja, dari berbagai dialog ini akan muncul tersamar
wajah obyektifitas. Mungkin.]***
No Comments »
Posted by: andhys in OPINI
PANCASILA
Pancasila (Jawa)
siji: Gusti Allah ora ono kancane
loro: Dadi wong kudu sing adil lan ojo kejem-kejem
telu: Indonesia bersatu kabeh
papat: karo tonggo-tonggo nek ono masalah diomongno bareng-bareng opo
o
limo: mangan ra mangan sing penting kumpul
Pancasila (Sunda)
hiji: Gusti Allah eta sorangan sareng ageng pisan
dua: ka sorangan teh sikapna kudu sami, ulah ngabeda-beda keun..
tilu: Indonesia kuduna mah jadi hiji
Opat: Ra’yat Indonesia sae na pang mutuskeun sagala teh disepakatkeun
heula. Kedah bager lan bijaksana
Lima: Ceunah teh sikap sosialna kudu adil hiji sareng batur.
Pancasila (Batak Toba)
Sada: Dang adong na pajago-jagohon di jolo ni Debata
Dua : Maradat tu sude jolma
Tolu : Punguan ni halak Indonesia
Opat : Marbadai … marbadai, dungi mardame
Lima : Godang pe habis saotik pe sukkup
Poncosilo (jawa kromo)
kaping setunggal: Gusti ingkang Maha satunggal
Kaping kalih: Tiang ingkang Adil lan beradab
kaping tiga: persetunggalan Indonesia
kaping sekawan: Kerakyatan ingkang dipimpin kaliyan hikmat lan
kewicaksonoan dateng permusyawaratan kang diwakilkan.
kaping gangsal:Adil kang sosial kangge sakabehe tiang Indonesia
Pancasilo (Palembang)
siko: Tuhan kito tu siko bae
duo: Aman jadi manusia tu arus adel, jangan jahat-jahat la
tigo: Kito galo-galo uwong Indonesia
empat: Aman awak nak jadi pemimpin tu musti reti masalahnyo, jangan
macak-macak
Limo: njuk rata la budak-budak tu, jangan makan dewe bae
Pancasila (Ambon)
1. Torang samua tawu cuma ada Tuang Allah yaitu Tete manu…
2. Orang ambon samu harus tau adat
3. acang deng obet harus bisa bakubae
4. Paitua deng maitua harus bae-bae di rumah rakyat
5. samu harus bisa jaga diri karna ambon lapar makan orang……. …
Pancasila (Manado)
1. Cuma boleh ba satu Tuhan
2. Selalu adil kong ja pake ontak
3. Torang samua satu, Bangsa Indonesia
4. Tu rakyat musti slalu bakumpul kong bicara bae-2 spy slalu ada
kaputusan gagah yg semua trima deng nang hati.
5. voor seluruh rakyat Indonesia, nyanda ada tu jabaku kase beda-2
perlakuan.
Pancasilo (Padang)
ciek: Bintang Basagi Limo
duo: Rantai pangikek kudo
tigo: pohon baringin gadang tampek kito bacinto
ampek: kapalo banteng batanduak duo
limo: padi jo kapeh pambaluik nan luko..
1 Comment »
Inti Sari Siu Tao
Belajar Tao / Siu Tao ( ), memang bukan merupakan suatu masalah yang
mudah, begitu banyak pengertian yang harus diserap, namun lebih penting lagi
yaitu begitu banyak pengeritan itu yang harus dijalani. Tanpa melaksanakan
pengertian-pengertian yang baik itu, merupakan suatu yang sia-sia. Sering kali
terjadi, setelah sekian lama kita merasakan dan menikmati semerbak harumnya,
barulah kita menyadari dan mengerti akan keagungan dan kemuliaannya secara
lebih mendalam.
Tao ( ) dengan kekuatannya tidak terlihat dan tidak
terasa telah mengubah sifat manusia, Tao menghendaki umatnya berlatih diri,
mengenal diri, dan selalu mawas diri. Menjadikan umat manusia mau meninggalkan
yang kurang baik, serta memupuk budi luhur masing-masing.
Proses ini mungkin amat sulit untuk diikuti perkembangannya, bahkan harus
melalui hari-hari yang panjang dalam kehidupan ini, serta membutuhkan keyakinan
yang tebal serta keuletan yang tinggi. Kalau tidak, pasti akan gagal ditengah
jalan. Untuk menuju sukses masih jauh sekali jarak yang harus kita tempuh.
Jadi secara garis besar Inti Sari
Siu Tao (


) adalah merevisi diri, menghilangkan
kelemahan-kelemahan diri kita, serta memupuk sifat-sifat mulia.
Objek Siu Tao adalah "Diri
kita masing-masing", bukan orang lain.
Manusia merupakan makhluk hidup
yang "Unik", mempunyai perbedaan-perbedaan yang begitu kompleks, yang
seringkali bahkan diri sendiri pun sulit untuk memahami. Namun secara umum, ada
beberapa sifat-sifat yang telah diketahui oleh manusia, sehingga kita masih
dapat menyimpulkan sifat mana yang harus dikikis, dan sifat mana yang harus
dipupuk, sesuai dengan ajaran Tao, seperti yang dijelaskan di atas.
Beberapa sifat yang harus dikikis
dari kehidupan kita:
Kesombongan
Apabila kita mempunyai "kelebihan" dibandingkan orang lain, merupakan
suatu hal yang wajar apabila kita merasa bangga, namun antara bangga dan
sombong seringkali hanya dibatasi oleh benang tipis. Di dalam kitab suci Dai
Sang Law Cin mengatakan : Membanggakan diri sering datangkan rugi,
merendahkan diri tak hilang apapun sejari, Kalau pandai jangan menonjolkan
diri, yang pandai berilmu tinggi biasanya seperti terendah tak kuat berdiri.
Membanggakan diri yang berlebihan (sombong), hanya akan memuaskan ambisi kita,
namun tidak menambah apapun dalam diri kita.
Dendam
Di dalam perjalanan hidup manusia, ada pepatah yang mengatakan banyak manusia,
menimbulkan banyak masalah. Di sini jelaslah bahwa di dalam hidup
bermasyarakat, akan banyak timbul gesekan-gesekan dengan orang lain.
Bagaimanakah seharusnya kita sebagai seorang umat Tao dalam menghadapi masalah
ini? Setiap masalah yang timbul, seharusnya diselesaikan secara bijaksana,
mengikuti peraturan dan kesepakatan di dalam masyarakat. Dengan demikian
permasalahan diharapkan bisa diselesaikan dengan baik. Apabila di dalam hati
kita selalu timbul rasa dendam, maka persoalan akan "tidak pernah
selesai", dan selalu menjadi ganjalan di dalam hati, maka hati kita
pun tidak pernah "tentram dan tenang". Apalagi bila hal ini
dihubungkan dengan kenyataan bahwa orang Tao mempunyai Fak, makin tinggi Tao
seseorang, maka makin tinggi pula Fak nya. Kalau masih mempunyai rasa dendam,
mana mungkin Tao nya bisa tinggi?
Egois Di dalam Dai Sang Law Cin Cen
Cing mengatakan : Menolong orang lain, haruslah menolong diri sendiri
dahulu. Ini bukan berarti mengajarkan
kita untuk hanya mementingkan diri sendiri (Egois). Sebenarnya berapa banyak
yang dapat kita nikmati sendiri? Makan tiga kali sehari, berganti baju dua kali
sehari, tidur tujuh jam sehari, apakah itu tidak cukup bagi kita? Mengapa kita
tidak menyisihkan waktu dan kemampuan serta kelebihan harta kita bagi orang
lain? Bagi keluarga kita, bagi saudara kita, dan bagi masyarakat luas.
Kecemasan yang berlebihan Suatu hal yang wajar manusia
mempunyai rasa cemas, begitu banyak hal yang tidak kita ketahui, cemas terhadap
keadaan keluarga kita, kesehatan kita, pekerjaan kita, dan banyak lagi
kecemasan-kecemasan lainnya. Namun apakah hanya dengan kecemasan saja semuanya
akan berubah? Di dalam Dai Sang Law Cin Cen Cing berkata : Hidup selalu banyak
rintangan, Dapat berpikir adalah bawaan manusia, Bebas duniawi berarti sudah
habis nyawanya, Mengerti Tao buah pikiran terbuka, Buanglah kecemasan dan
nyanyilah lagu-lagu Tao, Siu Tao hingga dapat berdialog dengan Dewa-Dewa,
Dewa-Dewa tentu lebih perhatian pada kita. Sedang di dalam Fuk Tek Cen Shen Cen
Cing mengatakan: Fuk Yu Thien Sang Lai, Tek Yu Shin Cong Jie (Rejeki diberi
oleh Tuhan, Moral timbulnya dari sanubari).
Disini jelaslah bahwa hanya
dengan Siu Tao (menjalankan ajaran Tao), banyak berbuat kebajikan, mempunyai
moral yang tinggi, berusaha dan berpikir untuk mengatasi rintangan hidup, maka
secara nyata kehidupan kita selalu akan dilindungi, kalau demikian, mengapa
masih selalu merasa cemas?
Tentu saja masih ada sifat-sifat
lainnya yang harus dikikis, tapi akan kita bicarakan pada lain kesempatan.
Sekarang kita membicarakan
beberapa sifat yang harus dipupuk di dalam kehidupan kita:
Welas Asih Sudah sama-sama kita mengerti dan
ketahui bahwa: Dai Sang Cui Yu Jing (Dai Sang Law Cin sangat Welas Asih),
kita sebagai umatnya tentu harus mengerti hal ini, harusnya kita jadikan
teladan di dalam hidup kita. Welas asih adalah sifat yang sangat mulia, selalu
berbuat demi meringankan penderitaan umat manusia.
Lapang dada Di dalam Tao Tek Cing ciptaan Law
Ce, menyebutkan yang kira-kira artinya demikian: Manusia bijak seperti air
danau yang dalam, begitu tenang dan bening, seolah apapun yang dilemparkan ke
danau itu, tertelan begitu saja, airnya tetap tenang dan jernih. Justru
karena ia bisa menerima apa yang tidak bisa diterima orang lain, menunjukkan
ketinggian Tao-nya. Ini menunjukkan manusia seharusnya bisa lapang dada, bisa
menerima hal-hal yang mungkin menyakitkan (Kritik, saran, salah paham, dll),
dengan begitu maka Tao-nya akan menjadi lebih tinggi.
Kejujuran
Meskipun ajaran Tao mengharuskan
kita fleksibel, tapi bukan berarti kita harus mengorbankan kejujuran. Kitab
Suci Erl Lang Shen mengatakan: Tao timbul dari arus kejujuran yang agung dan
mulia. Dari alamiah, asal alamiah, menuntun umat manusia ke jalan yang benar di
dunia. Mungkin kita bisa membohongi orang lain, namun kita tidak dapat
mengingkari hati nurani kita. Dan itu tidak sesuai dengan ajaran Tao.
Demikian yang ingin saya
sampaikan pada hari ini, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi perjalanan Siu Tao
kita.
Cerita ilustrasi:
Zhang Liang menunjukkan rasa
hormat kepada seorang Tua dan mendapatkan sebuah buku pegangan yang luar biasa.
Zhang Liang adalah seorang pintar
yang rendah hati, dan sopan santun, ayahnya adalah seorang Perdana Menteri
negara Han, di daerah yang sekarang disebut
Korea
.
Ketika Qin menghancurkan Han, ia
melarikan diri, dan berencana untuk kembali meneruskan negara Han. Pada suatu
hari, setelah belajar, ia beristirahat dan menyusuri sebuah aliran sungai,
tibalah ia pada sebuah jembatan yang di atasnya sedang duduk seorang tua, pada
saat ia sudah dekat, orang tua itu menjatuhkan sepatunya ke tepi sungai, dan
dengan seenaknya ia menyuruh Zhang Liang mengambilkan sepatunya.
Meskipun ia merasa dongkol, namun
ia merasa ia harus menghormati orang yang lebih tua, maka ia mengambilkan sepatu
itu. Setelah sepatu itu ia serahkan, orang tua itu bahkan menyuruhnya
memakaikan sepatu itu, tapi ia tetap dapat mengendalikan emosinya, dan berpikir
bahwa ia telah mengambilkan sepatunya, apa salahnya ia memakaikannya? Kemudian
orang tua itu pergi sambil berkata: kamu sangat menghargaiku, kembalilah
lima
hari lagi, temui saya
pagi-pagi di sini.
Lima
hari lagi Zhang Liang datang ke jembatan itu, tapi orang tua itu sudah duduk di
sana
, lalu ia berkata, kamu terlambat, datanglah
lima
hari lagi,
karena saya telah menunggumu lama sekali.
Lima
hari kemudian, Zhang Liang kembali ke tempat itu lebih pagi, namun kembali
orang tua itu telah duduk di
sana
, lagi-lagi
orang tua itu berkata: kamu terlambat, datanglah
lima
hari lagi.
Maka
lima
hari kemudian, tengah malam Zhang Liang
tidak tidur, ia langsung ke jembatan itu, langit masih gelap dan dingin, ia
berhasil datang lebih dulu daripada orang tua itu. Orang tua itu kemudian
memberinya sebuah buku strategi perang yang telah lama hilang, dan berkata pada
Zhang Liang, bahwa ia akan mencapai sukses hidup dengan buku itu. Setelah
mempelajari buku itu, suatu hari kemudian Zhang Liang menjadi menteri pendiri
dinasti Han, dan sangat terkenal dengan taktik perangnya.
Ilustrarsi cerita ini memberikan
kepada kita suatu makna:
Bahwa dengan kecerdasan,
kerendahan hati, sopan santun, dan lapang dada, Zhang Liang mendapatkan Jalan
untuk mencapai cita-citanya.
Cerita kedua :
Cai Yong menerima Wang Can
dengan memakai sepatu terbalik
Cai Yong, penulis dan sarjana
yang sangat ternama, menjabat sebagai pejabat tinggi selama pemerintahan kaisar
Han Xian pada periode Tiga Kerajaan.
Dia sangat mengagumi Wang Can,
seorang muda berbakat yang sering ia dengar namanya disebut orang.
Wang Can adalah seorang yang
mempunyai kemampuan berbahasa yang luar biasa, dengan kata-katanya ia banyak
menolong orang lain, misalnya merukunkan keluarga yang terpecah, dll. Suatu
hari Cai Yong mengundang Wang Can untuk suatu resepsi, dan pada saat Wang Can
tiba, disana telah banyak tamu, setelah tahu Wang Can tiba, dengan tergesa-gesa
Cai Yong menyambutnya dengan memakai sepatunya secara terbalik.
Para
tamu yang lain menjadi heran, dan berpikir bahwa tamu yang disambut pasti
bukanlah orang sembarangan. Tapi menjadi bingung ketika melihat yang disambut
adalah seorang muda dengan penampilan yang sangat sederhana. Bahkan mulai
sinis, karena Cai Yong adalah pejabat tinggi, mengapa begitu menaruh hormat
pada Wang Can?
Namun setelah mengetahui bahwa
Wang Can memang seorang yang rendah hati dan mempunyai pengetahuan yang luas,
mereka tidak lagi menyalahkan Cai Yong yang salah memakai sepatunya, bahkan
menghargai betapa Cai Yong memperlakukan tamunya dengan hormat.
Makna cerita : Seseorang dinilai dari
kepribadiannya dan kemampuannya, bukan dari penampilan luarnya.
No Comments »
KISAH POHON APEL
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak
laki-laki yang senang bermain-main dibawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan
buahnya, tidur-tiduran diketeduhan rindang daun-daunnya.
Anak laki-laki itu sangat mencintai pohon apel itu.
Waktu terus belalu.
Anak laki-laki itu kini sudah tumbuh besar dan tidak lagi
bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi
pohon apel.
Wajahnya tampak sedih. Ayo kesini bermain-main lagi
denganku, “pinta pohon apel itu.
“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon
lagi,” jawab anak itu.
“Aku ingin sekali memiliki mainan,tapi aku tak punya uang
untuk memilikinya.”
Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku tak punya uang
….. tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bias
mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemarankmu.”
Anak laki-laki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua
buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak laki-laki tak pernah datang lagi.
Pohon apel tersebut kembali bersedih .
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi.
Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
“ Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel.
“ Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu.
“ Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan
rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”
“Duh, maaf akupun tidak memiliki rumah. Tapi kau boleh
menebang semua rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon Apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting
pohon apel itu dan pergi dengan gembira.
Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki
itu senang, tetapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi.
Pohon Apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi.
Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.
“ Ayo bermain-main lagi denganku,” Kata pohon apel.
“ Aku sedih,” kata anak lelaki itu.
“ Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi
berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal pesiar?”
“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong
batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah
berlayar dan bersenang-senanglah.”
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu
dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi
datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah
bertahun-tahun kemudian.
“Maaf anakku,” kata pohon apel itu.” Aku sudah tak memiliki
buah apel lagi untukmu.”
“Taka pa. aku juga sudah tidak memiliki gigi untuk
menggigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu. “Aku juga tidak memilikibatang
dan dahan yang bias kau panjat,” kata pohon apel.
“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak
lelaki itu.
“Aku benar-benar tidak memiliki apa-apa lagi yang bisa
aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan
sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikan air mata.
“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak
lelaki.
“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku
sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”
“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua
adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring
dipelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”
Anak lelaki itu berbaring dipelukan akar-akar pohon.
Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
—————————— The
End——————————
Ketika kita masih muda, kita senang bermain-main dengan
ayah-ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan
hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli
apapun, orang tua kita akan selalu ada disana untuk memberikan apa yang bisa
mereka berikan untuk membuat kita bahagia.
————————sunyi———————-
Kita mungkin akan berfikir bahwa anak lelaki itu telah
bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan
orang tua kita.
————————– sunyi
lagi —————————
Cintailah orang tua kita dan berterima kasihlah atas
seluruh hidup yang telah dan akan diberika-Nya pada kita………………………………………….
2 Comments »
Cinta dalam kotak kardus
bekas
“Telah begitu lama
aku merasa bahwa dunia sekitarku sudah ditelan oleh keserakahan arus
egoisme.”Demikian seorang teman yang bekerja di toko seven eleven di samping
gerejaku memulai kisahnya. “Telah lama saya merasa bahwa hati manusia kini
telah berubah dingin dan beku. Tapi sebuah peristiwa yang terjadi beberapa
tahun kemarin telah membuktikan bahwa pandanganku di atas adalah kesimpulan
yang salah.”
“Saat itu sebagaimana biasanya, aku sibuk seharian melayani setiap orang yang
datang ke toko ini. Tak terasa sudah pukul 1.30 pagi hari. Ketika saya hendak
menutup toko untuk kembali, terdengar bell otomatik berdering. Tanpa mengangkat
muka, dalam hati aku mengumpat; “Huh…dasar kelelawar dan kucing malam. Sudah
jam begini tak pulang ke rumah tapi berkeliaran sepanjang malam.¡¦ Namun ketika
aku mengangkat wajahku, kudapati seorang gadis cilik kira-kira berumur 15
tahun. Kedua tangannya mengangkat selembar kertas tertulis; “Aku tak dapat
berbicara. Bolehkah engkau membantu aku?”
“Ternyata gadis cilik ini membutuhkan kotak kardus bekas dan meminta agar saya
mengumpulkan kotak-kotak karton kardus untuk diberikan kepadanya. Tanpa banyak
bertanya maksudnya, saya lalu menganggukan kepala menyetujui permintaannya. Dan
sejak itu, setiap hari jam 1.30 di pagi buta sang gadis cilik ini akan datang
mengumpulkan kotak-kotak tersebut.”
“Setelah beberapa minggu, ternyata aku telah menjadi sahabatnya. Suatu saat,
dengan penuh rasa ingin tahu, saya mengambil sebatang pensil dan menuliskan
pertanyaan di atas secarik kertas; “Mengapa engkau mengumpulkan kotak-kotak
bekas ini? Apakah orang tuamu tak akan merasa cemas membiarkan engkau berjalan
sendirian pada jam begini?¡¦ Tak kusangka…pertanyaanku ternyata seakan sebuah
kunci keran yang membuka pipa air matanya. Air matanya mengalir tanpa henti,
melepaskan semua beban yang selama ini bercokol dalam hatinya.”
“Oh…Tuhanku. Betapa besar derita yang harus ditanggung gadis cilik ini. Saat
ini ia berumur 16 tahun. Sebelum ibunya melahirkan adiknya, ayah telah
meninggalkan mereka menuju dunia abadi. Dan sang ibu?? Tak berapa lama setelah
adiknya tidak menyusui lagi, sang ibu meninggalkan mereka entah ke mana
perginya. Gadis cilik yang bisu ini harus berusaha menghidupkan dirinya sendiri
serta adiknya yang masih kecil. Tak ada pekerjaan lain yang bisa ia lakukan
kecuali mengumpulkan kotak bekas untuk dijual. Pedih hatiku mendengar kisah
gadis kecil yang tak menyerah pada kerasnya tuntutan hidup ini. Sejak saat itu,
setiap hari aku akan mengisi sejumlah roti dalam kotak tersebut, cukup untuk
memenuhi kebutuhan mereka akan rejeki sehari itu. Tak lupa saya masukan minuman
ke dalam kotak yang sama. Di samping itu setiap hari saya tak pernah berhenti
mencoba mencari pihak yang bisa memberikan bala bantuan.”
“Sudah beberapa hari, sang gadis cilik ini tak pernah datang lagi. Tentu saja
ada kepedihan memenuhi bathinku memikirkan kemungkinan mala petaka yang terjadi
atas diri mereka. Apakah mereka dalam keadaan selamat? Ataukah mereka sedang
sakit? Dan…Oh Tuhan, mengapa aku tak meminta alamat tempat tinggalnya? Aku
tak tahu di mana ia tinggal dan tak bisa mengunjunginya.”
“Dalam situasi yang demikian, saya bersiap meninggalkan toko tersebut. Dan di
depan pintu, ada sepucuk
surat
.
“Kak, terima kasih berlimpah atas bantuanmu selama ini. Aku dan adikku sudah
menjadi anak angkat dari sebuah keluarga yang baik. Saat ini hidup kami telah
berubah. Sekali lagi terima kasih berlimpah.¡¦ Sepucuk
surat
yang singkat. Namun setelah membaca
surat
tersebut, tak
terasa air mataku jatuh tak tertahankan. Bukan kesedihan, tetapi itu adalah air
mata keharuan. Ternyata Cinta masih memiliki tempat di bumi. Terima kasih Tuhanku.”
No Comments »
Posted by: andhys in OPINI
Tayangan di Tabung Kaca (diambil dr DETIK.COM)
Indira Permanasari
Asih,
warga Cililitan, Jakarta Timur, mau tak mau resah juga oleh tayangan di
televisi. Perempuan berusia 30-an tahun itu mempunyai putra, Tian, yang
berusia 4 tahun 6 bulan, yang gesit dan mulai banyak bertanya.
Sekarang
ini, kata dia, isi siaran televisi makin aneh-aneh saja. "Apalagi
acara-acara mistis yang kian banyak. Saya bingung ketika harus
menjelaskan kepada anak saya tentang hantu-hantu itu," kata Asih.
Anaknya yang aktif itu juga hafal berbagai lagu percintaan yang
mewarnai berbagai sinetron dan jingle iklan. Bahkan, tak jarang ia
menirukan gaya para ranger sang jagoan di televisi.
Tak
dapat dihindari, televisi sudah menjadi salah satu "anggota keluarga"
Asih. Di luar kegiatan sekolah, makan, bermain dan tidur, minimal 4 jam
dalam sehari Tian menghabiskan waktunya bersama televisi. Artinya,
dalam sebulan 120 jam atau 1.416 jam setahun ia duduk di depan pesawat
televisi.
Asih
bersyukur Tian masih mau menuruti aturan yang ia buat; harus sudah
tidur sebelum larut malam. "Acara seperti SmackDown yang heboh itu
untungnya tidak dia tonton," kata Asih.
Keluhan
terhadap tayangan televisi kian marak seiring pertumbuhan stasiun
televisi. Saat ini ada 11 stasiun televisi yang siaran secara nasional
dengan sekitar 280-an program dalam satu hari. Yang banyak dikeluhkan
antara lain tayangan yang berbau kekerasan, mistis, pornografi,
eksploitasi terhadap orang miskin, dan yang berbau seks.
Bayangan
terhadap dampak tayangan-tayangan demikian memang mengerikan. Salah
satunya diungkapkan oleh Brandon Centerwall dari University of
Washington. Dalam artikelnya yang dipublikasikan tahun 1992 dalam
Journal of the America Medical Association, Brandon mengingatkan bahwa
sejak pengenalan televisi kepada publik Amerika Serikat pada tahun
1950-an telah meningkatkan angka pembunuhan.
Salah
satu kutipannya yang terkenal ialah "if, hypothetically, television
technology had never been developed, there would today be 10,000 fewer
murders each year in the United States, 70,000 fewer rapes, and 700,000
fewer injurious assaults."
Ribuan
kilometer dari Jakarta, tepatnya di Singapura—yang semakin kosmopolitan
itu, kekhawatiran serupa juga hadir. Permasalahannya tetap pada
bagaimana agar tegangan antara pertumbuhan industri media dan
kepentingan publik atau masyarakat akan lingkungan bisa tumbuh dan
memberi andil terhadap perkembangan yang sehat bagi anak.
Chris
Chia, Executive Officer Media Development Authority Singapura,
mengatakan bahwa salah satu fungsi dari lembaga yang dipimpinnya itu
pada intinya untuk mendukung perkembangan industri media di Singapura.
Industri media tersebut mencakup lima area, yaitu film, televisi,
publikasi, games, dan animasi. Lembaga itu berpengaruh untuk
menciptakan lingkungan regulasi bagi pengguna atau penonton program.
Untuk
mereduksi pengaruh buruk siaran atau tayangan, beberapa tahun ini telah
ada upaya mengklasifikasi produk film dan video. Klasifikasi itu
dikejakan dengan bantuan dari kelompok industri besar, terdiri atas
sekitar 60 orang yang merepresentasikan berbagai kelompok komunitas
berbeda. Sejauh ini mereka telah mampu mengklasifikasikan beberapa ribu
film per tahun dan sekitar 25.000 video per tahun. Ribuan film dan
video itu umumnya dibuat di luar Singapura.
"Setiap
tayangan yang masuk akan diklasifikaskan dan diberi kode contohnya,
tontonan untuk penonton umum, kelompok 16 tahun, kelompok 18 tahun,
atau kelompok 21 tahun. Bagaimana klasifikasi itu akan bekerja, akan
bergantung pula pada ras dan religi, sehingga kami juga
mempertimbangkan dan memerhatikan hal itu. Sepanjang materinya tidak
menimbulkan permasalahan, maka akan lolos," katanya.
Terdapat
pula program yang mempromosikan kepentingan sosial masyarakat dan
menciptakan kehidupan harmoni berbangsa, tetapi juga menarik untuk
disaksikan masyarakat. Program Public Service Broadcasting tersebut
didanai dari iuran surat izin kepemilikan alat penyiaran, seperti
televisi dan radio, yang dibayarkan masyarakat atau biasa disebut TV
and Vehicle Radio License. Besaran iuran 27-110 dollar Singapura.
Dana
itu dimanfaatkan untuk mengembangkan program yang kurang komersial
sehingga butuh dukungan dana. Acara dikemas informatif dan edukatif:
mulai dari program berita, pendidikan, kultur, bahasa, dan acara
anak-anak. "Kami memproduksi sekitar 3.000 jam tayangan dalam setahun.
Ada juga yang dapat dijual ke negara lain karena sifatnya dokumenter
dan banyak diminati," katanya.
Menurut
Chia, sangat penting untuk mendidik masyarakat pemirsa. Masyarakat,
terutama yang masih muda dan dididik saat ini akan menjadi penonto
No Comments »
K.I.S.S (Keep It Simple Stupid) Ternyata hidup bijak itu sederhana………….
(diambil dr E-mail)
Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik. Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya. Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja. Seorang anak berkata kepada ibunya: "Ibu hari ini sangat cantik." Ibu menjawab: "Mengapa?" Anak menjawab: "Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah. " Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah. Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah. Temannya berkata: "Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur." Petani menjawab: "Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku." Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja. Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: "Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?" Ada yang menjawab: "Cari mulai dari bagian tengah." Ada pula yang menjawab: "Cari di rerumputan yang cekung ke dalam." Dan ada yang menjawab: "Cari di rumput yang paling tinggi." Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: "Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana." Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat. Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: "Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku." Katak di pinggir jalan menjawab: "Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah." Beberapa hari kemudian katak "sawah" menjenguk katak "pinggir jalan" dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat. Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja. Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira. Ada yang bertanya: "Mengapa engkau begitu santai?" Dia menjawab sambil tertawa: "Karena barang bawaan saya sedikit." Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja
No Comments »
Posted by: andhys in Religion
Untuk apa kita bekerja?
Apa kita bekerja untuk makan? Atau kita makan untuk bekerja? Semua orang bekerja. Menanggung lelah; menahan jengkel; memeras pikiran; mengucurkan keringat; menghabiskan tenaga; membanting tulang dari pagi sampai sore.
Bayangkanlah paramedis di UGD yang seharian berdiri menunduk menjahit robekan tubuh korban yang mengerang kesakitan karena ususnya terburai. Atau seorang masinis kereta api yang pukul tiga pagi sudah menyalakan tungku batu bara lokomotif. Atau bahkan bayangkan pekerjaan seorang ibu rumah tangga, yang tak pernah ada habisnya. Untuk apa mereka bekerja? Untuk apa kita bekerja?
Kita bekerja untuk mendapat nafkah. Sesempit itukah tujuan kerja? Apa hidup ini hanya bertujuan untuk mencari nafkah?
Kita adalah makhluk yang lebih dari sekedar punya mulut dan perut tok. Kita memiliki martabat dan hati nurani. Martabat diri itu tidak akan terwujud dengan hanya ongkang kaki. Karena itulah kita bekerja. Dengan bekerja diri kita diaktualkan. Dengan bekerja diri kita jadi berarti dan memberi arti.
Punya arti dan memberi arti bisa dilakukan tiap orang, betapa pun ?kecil? pekerjaannya. Yang diperbuat seorang penjaga pintu lintasan kereta api bukan sekedar menjaga pintu kereta, tapi menjaga puluhan nyawa manusia. Yang diperbuat ibu bukan sekedar menyiapkan nasi, melainkan menyiapkan masa depan anak-anaknya.
Setiap orang perlu bekerja. Sebab itu, yang diberikan Tuhan kepada Adam pertama-tama adalah pekerjaan, bukan istri. Belajarlah dari semut, yang bekerja dengan rajin dan tekun, tidak banyak bicara dan tidak egois. Kerja adalah ibarat senar gitar. Terlalu kencang dia putus, terlalu kendor malah tidak bunyi.
Kita bekerja karena Tuhan bekerja. Tiap pagi Tuhanmembangunkan surya. Tiap petang Ia menidurkan senja. Ia meniup awan. Ia meneteskan hujan. Ia menghidupkan indung telur. Ia menghembuskan napas kehidupan ke jabang bayi. Ia mengajar ikan berenang. Ia mengawasi merpati yang terbang kian kemari.
Ketika kita bekerja, Tuhan berada di dekat kita. Sekali-kali ia menoleh kepada kita. Ia tahu bahwa kita letih. Ia juga letih. Ia pun mengangguk kagum melihat kita saat mengerjakan tugas dengan ketekunan.
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan…”
Kita bekerja karena hidup ini mempunyai arti. Kita bekerja supaya hidup ini memberi arti. Hidup ini Cuma sekali. Sekali berarti sesudah itu mati. Pertanyaannya, apakah hidup kita sekarang ini sudah memiliki arti dan memberi arti?
Selamat bekerja. Selamat berkarya.
2 Comments »
|