In Memoriam OEI TJOE TAT
02-Jun-96
Dialog dengan Saksi dan Pelaku Sejarah
"Tinggalkan Warisan Pengalaman bagi Generasi Muda"
[Meskipun bakal menghadapi resiko seperti di atas, Pak Oei tetap tidak
'buka mulut' terhadap tugas yang dibebankan oleh Soekarno padanya. Soekarno
memang tidak salah memilih Pak Oei dalam menjalankan silent diplomatic mission
ini, sebab seperti dikemukakan oleh Ong Hok Ham, Soekarno tahu bahwa loyalitas
Oei Tjoe Tat pada partai akan berakhir bila negara telah memintanya.
"Soekarno memang pandai," ungkap Pak Oei. Di jaman itu, memang sulit
mencari orang partai yang loyal kepada negara.
Biasanya orang lebih ingin memajukan kepentingan partainya masing-masing.
Jadi, tindakan Pak Oei yang juga tidak memberitahu PARTINDO dan BAPERKI akan
tugas rahasianya, memang sesuatu yang langka. Pak Oei sendiri menyebut dirinya
'apolitis' karena sikapnya itu."Tapi bukan berarti lugu politik '
kan
?"
begitu pancing kami.
Ada
sebuah pengalaman lagi
yang menunjukkan betapa Pak Oei amat memahami tindakan serta situasi yang
menyertai setiap keputusan politik Soekarno. Dalam resepsi di kedutaan besar
Mesir, Aidit pernah mendekati Pak Oei. Ia bertanya, "Nasakom (kabinetnya)
itu kapan? '
Kan
presidennya Pak
Oei itu sudah berkali-kali berkaok-kaok. Tapi kok cuma bernyanyi-nyanyi
meninabobokan rakyat
Indonesia
."
Ini membuat marah Pak Oei. "Apa itu bukan juga presidennya Aidit?" Ia
katakan, Aidit cuma bisa mengkritik dari luar, meminta PKI duduk dalam kabinet.
"Tapi Soekarno yang duduk dikursi adalah pelaku. Dia harus memperhitungkan
betul-betul. Kalau PKI dimasukkan, tentara berontak. Kalau tentara berontak,
menang mana? '
Kan
lain..".
Pelaku itu memang lain posisinya. Karena situasinya beda dengan pengamat yang
mengambil jarak dari situasi. Seorang pelaku, "harus memperhitungkan
betul-betul segala sesuatunya secara teliti. Lebih kompleks." Baginya
Aidit sebagai seorang anggota parlemen, saat itu adalah semata-mata pengamat.
Ditambahkannya, "Pengamat mungkin obyektif, tapi kami yang menghayati
situasi, mohon diberi pengertian..."]
Sekarang soal G30S/PKI. Adakah RRC mempunyai hubungan dengan peristiwa ini?
OTT: Banyak orang selalu menyatakan bahwa G30S didalangi atau direstui
oleh RRC. Konfrontasi pun dikatakan demikian. Saya tidak mengerti seluk
beluk yang persis. Tapi dalam konfrontasi, pernah. Pak Karno bilang pada
saya (agar RRC diminta bantuannya dalam konfrontasi). Pada suatu resepsi
di kedutaan besar RRC, saya mendekati salah satu menteri yang pada waktu
itu datang. Saya bilang, "RRC sama kita seperti kawan seperjuangan.
Tapi dalam konfrontasi ini, nampaknya RRC kok seperti hanya melihat saja.
Apakah tidak bisa memberi tanda simpati. Paling tidak memberi senjata."
Dia jawab begini - yang menurut saya merupakan petunjuk RRC tidak mendukung
kebijakan konfrontasi -, "jelas kita tetap kawan seperjuangan. Kalau
Indonesia
perlu senjata, kita kasih. Tapi
Indonesia
harus mengambil sendiri senjata itu. Dan kita cuma bisa memberi senjata ringan.
Kenapa? Kita tidak setuju cara konfrontasi
Indonesia
yang dititikberatkan di
Malaya
, di mana infrastrukturnya
sudah sempurna. Dan tidak mungkin
Indonesia
bisa menguasainya. Kalau
Indonesia
sungguh-sungguh mau konfrontasi, harus gerilya di hutan-hutan
Kalimantan
.
Dan untuk perang di hutan ini, kami bersedia memberikan senjata ringan dan
silakan ambil sendiri." Jadi nadanya, nada sinis. Bagi saya ini bukti
bahwa RRC tidak setuju.
…Sekarang mengenai G30S. Logikanya, RRC melihat Soekarno
sebagai kawan seperjuangan. Meskipun RRC kuat dan sebagainya, tapi adanya
Soekarno itu melindungi sebelah Selatan RRC. Kalau tidak ada Soekarno, itu
Amerika yang menguasai. Jadi melihat
Indonesia
sebagai partner, paling sedikit. Buat apa RRC ikut mendongkel Soekarno. Dia
butuh Soekarno. Ini kita hitung dengan logika saja. Motifnya bukan karena dia
cinta sama Soekarno atau
Indonesia
.
Tapi untuk kepentingan negaranya sendiri, mereka tidak mau menghilangkan
kekuasaan Soekarno. Kedua. Saya dengar dari Ali Ihram (?), intel. Dia
diberitahu waktu Chen Yi - Menteri Luar Negeri RRC - datang di sini, dia
menegur Aidit, "kalian mesti sadar, PKI ada karena toleransi Soekarno.
Karena Soekarno membutuhkan kalian untuk mengimbangi golongan-golongan kanan.
Maka saya minta, PKI tidak boleh berbuat sesuatu tanpa memberitahu Soekarno.
Kamu sendiri saja, tidak bisa enyelesaikan." Jadi, garis besarnya, ia
tidak setuju kalau PKI mengganjal Soekarno.
Ada
beberapa petunjuk bahwa RRC tidak terlibat dalam G30S. Bahwa mereka seolah-olah
sudah tahu lebih dahulu beberapa jam sebelum aksi meletus, itu saya bisa
mengerti. Sebab mereka juga punya intel.
[Bahwa Soekarno merasa dibutuhkan oleh RRC, disadari betul olehnya.
Jika seorang menteri koordinator seperti Pak Marno harus dengan ulet dan ngotot
mencari pinjaman pada menteri keuangan RRC, maka Soekarno hanya dengan menepuk
bahu Chou En Lai, dan berkata, "hey, masa' ndak 'ngerti kesulitan
Indonesia
.
Kami ndak usah meminjam lah, tapi tolong hutang kita dihapus semua." Dan,
Chou En lai memang tidak bisa berkutik lagi. Sampai-sampai Pak Marno, merasa
bahwa mestinya Soekarno tidak perlu lagi menteri keuangan.]
Apa yang anda ketahui mengenai skenario G30S ini? Siapa sebetulnya
yang harus bertanggung jawab?
OTT: Perlu kalian mengetahui lebih dahulu, bahwa saya mengetahui sedikit
tentang banyak sekali masalah. Tapi, saya tidak mengetahui cukup tentang satu
masalah pun. Karena tugas saya itu begitu. Saya tidak ada waktu cukup, tidak
ada staf cukup untuk mengetahui satu masalah dengan cukup. Tugas saya hanya
membantu empat orang (Soekarno, Soebandrio, Leimena dan Chaerul Saleh sebagai
Perdana Menteri dan wakil-wakil Perdana Menteri-red.). Saya ini diharuskan
mengikuti segala sidang. ‘
Kan
nggak mungkin. Bahkan kalau Chaerul Saleh harus meninjau daerah, saya harus
ikut. Nah, kalau pertanyaannya bagaimana mengenai G30S, …istri saya yang
(mungkin) lebih tahu. Tanggal 27 sampai 28 September, saya tugas di Hongkong.
Duapuluhdelapan September malam saya baru tiba. Dan menurut aturan, kalau saya
dari luar negeri, esok harinya harus lapor pada presiden. Jam tujuh malam itu
saya menelpon istana dan minta audiensi pada tanggal 29. Dijawab bahwa tanggal
29 itu sudah full, Pak Oei supaya datang pada tanggal 30 saja. Istri saya pada
28 September, rapat di gedung Sin Ming Hui - Sin Ming Hui anggotanya pribumi
juga ada. Nah, di situ, ada seorang Gerwani, seorang dokter. Dia tanya pada
istri saya, "malam ini Pak Oei ‘nginap di mana?" Istri saya ‘
kan
ndak ‘ngerti. "Ya, ‘nginap di jalan Blitar." Pertanyaan itu terus
diulang-ulang. Baru setelah berbulan-bulan setelah peristiwa (G30S) itu istri
saya berpikir, kalau begitu mungkin Gerwani sudah mengetahui sebelumnya.
…Saya pernah ditanyai oleh Pak Harto tentang kapan Bung Karno mengomandokan
rakyat - oleh karena Pak Karno selalu bilang supaya rakyat tetap tenang sambil
dia nanti akan memberi keputusan. Saya bilang pada Pak Harto, tanpa Pak Harto
tanyai, saya sudah berkali-kali tanya sama Bung Karno. Kapan itu diberikan
kepada rakyat. Sebab rakyat itu gelisah. Mereka tidak tahu apa dan siapa yang
salah, apa yang mereka harus perbuat dan sebagainya. Pak Harto mengatakan,
"selama belum ada komando dari presiden, anak buah saya masih terus
dibantai oleh PKI." Kemudian Pak Harto bertanya lagi, "kenapa Pak
Karno tidak membubarkan PKI ini? PKI ini sudah menusuk kita dua kali. Satu kali
ketika kita melawan Belanda, peristiwa Madiun. Yang kedua kalinya ini. Apa
belum cukup korban?" Saya katakan begini, "saya tidak tahu kenapa kok
Pak Karno masih menunda-nunda." Lalu dia bilang, "kalau pak Oei
sendiri setuju nggak, PKI dibubarkan?" Saya bilang, "karena saya ini
pembantu presiden tidak bisa menyuarakan sendiri. Pak Karno dan Jenderal
Soeharto masing-masing punya staf. Juga intel. Staf saya hanya 8, bagaimana
saya mau mengetahui PKI salah atau tidak. Kalau Pak Harto dan Pak Karno bilang
PKI salah, saya bilang salah. Kalau Pak Harto dan Pak Karno bilang tidak salah,
saya bilang tidak salah." …Kembali ke pertanyaan tadi. Sementara, sampai
detik ini, kalau tidak ada lain bukti lagi, saya masih berpegang pada pendirian
Soekarno. Soekarno yang saya kenal sebagai orang yang emosional, itu dalam
sidang-sidang kabinet setelah G30S, selalu marah dan mengatakan "gara-gara
semua ini. kita mundur." Tapi, selalu dia menyalahkan tiga unsur.
Unsur-unsur luar negeri, terutama CIA Amerika, kemudian unsur-unsur dalam
negeri terutama oknum-oknum angkatan darat yang tidak betul, kemudian - dia
bilang - ada orang-orang PKI yang keblinger.
Sampai detik ini pun saya masih berpegang pada itu kecuali ada bukti-bukti
baru. Dan Soekarno tidak hanya begitu saja, dia bisa menunjukkan dalam sidang
kabinet, kuitansi dari beberapa ratus ribu… yang diberi oleh Amerika kepada
’seseorang’ dari kita. Dan dia menggunakan kata-kata latin yang artinya.
"uang itu tidak berbau busuk." Artinya, uang itu enak. Orang
Indonesia
yang dikasih sekian untuk menjual negaranya, mau saja. (Lagi) …dan ada
seorang yang bilang sama Ny. Soebandrio, "jangan mengira
Soekarno itu akan selalu menguasai
Indonesia
.
Mungkin dalam beberapa minggu akan…" Nah, Soekarno dalam kabinet bilang,
"ini orang kok bisa predict, bisa meramalkan begitu kenapa?" …Sudah
baca The Troyan Horse? …Bahwa Amerika ini, bukan hanya satu dua tahun, sudah
belasan tahun menyiapkan segala sesuatunya. Di bidang budaya, perguruan tinggi,
segala-galanya.
Tadi dikatakan Soekarno memberi peluang kepada PKI untuk tetap eksis.
Apakah ini karena PKI dan Soekarno mempunyai paham yang sama?
OTT: Dalam hal anti kapitalis, ya sama. Tapi tidak semua sama. Bung Karno
orang yang religius, PKI tidak. Bung Karno anti kekerasan. PKI jelas tidak.
Saya bukan memusuhi PKI, Marxisme atau Leninisme. Saya kagum. Tapi PKI dalam
beberapa praktek, saya ndak bisa setuju. Di mana dia kuasa sedikit, dia akan
memaksa. Contoh… Saya dekat lho dengan Nyoto - dengan Aidit kurang. Waktu di
Bali diadakan Pemilihan Umum DPRD - pada waktu itu yang berkuasa di
Bali
:
PKI, PNI, NU -, mereka mengatakan NASAKOM haruslah Nas-nya PNI, A-nya hanya NU,
kemudian Kom-nya harus PKI. Kemudian ada PARTINDO partai saya. Tapi, tidak
boleh masuk. Wah ini bertentangan dengan penafsiran Bung Karno. Waktu itu saya
kasih tahu Nyoto. "Sekarang saya minta kepada Pak Nyoto untuk kasih
pengertian pada PKI di
sana
."
Dia tanya apa betul terjadi begitu. Saya bilang betul. Saya kasih tempo. Bila
tidak ada juga jawaban memuaskan, saya akan kasih tahu Pak Karno. Karena ia
yang paling pandai menafsirkan apa yang dimaksud NASAKOM. Setelah satu minggu,
saya ke Bung Karno. Saya ceritakan pada Bung Karno. Ia bilang, "Nyoto itu
orang intelektuil, apa dia ndak pura-pura?" Saya bilang belum tentu. Dua hari
kemudian Nyoto menelpon, "Pak Oei, ndak usah dong ngomong-ngomong sama Pak
Karno. Saya sudah tegor temen-temen di
Bali
." Ini
contoh bahwa PKI kadang-kadang… wajar. Tapi, jangan begitu. Juga di Bali, PNI
paling
berkuasa. Pamong praja yang dikuasai oleh mereka. Dan seperti saya katakan,
kalau saya apolitis, PNI itu sangat politis. Semua kebutuhan pokok pamong praja
dikuasai, juga fasilitasnya. Kalau perlu pedagangnya. Tidak beda dengan Golkar
sekarang. PNI juga seperti itu. Nah, PKI yang nomor dua di
sana
.
Dia (PKI) mengejek, meremehkan, menyinggung perasaan orang-orang
Bali
yang bukan Islam. Seperti mengejek sesajennya orang
Bali
.
Apakah mereka mau menyembah patung, (seharusnya) itu bukan urusan kita dong.
Itu pengalaman saya dengan PKI. Dengan (tidak mengurangi) catatan bahwa PKI
sangat berjasa bagai kemerdekaan
Indonesia
.
Dan orang-orangnya brilyan. Serius. Dalam keseriusan pada urusan partai, kita
kalah. Cuma saya nggak senangnya, mereka suka memaksa. Bagi mereka hanya ada
‘lawan’ atau ‘kawan’.
……………………………..sensor pengirim…………………………………………
Kembali ke soal Soekarno. Masih ada suara-suara yang kami dengar dari
beberapa orang, tokoh yang merasa, pada jaman Orde Lama, mereka itu ditindas.
Tapi, sebaliknya dari cerita orang-orang yang dekat dengan Soekarno - seperti
Pak Oei sendiri - Soekarno bukan tipe yang demikian.
Nah, sebetulnya, penindasan yang disebut-sebut pada jaman Orla itu produk dari
mana?
OTT: Saya tidak akan jawab langsung. Begini. Saya selalu mengatakan, menulis
buku ini, bukan uraian politik. Bukan buku sejarah. Tapi hanya rekaman belaka
dari apa yang saya lihat dan saya dengar, dengan telinga saya dan mata saya.
Dus, sangat subyektif. Apalagi dengan memori saya.
Kalau saya menulis tentang Soekarno, saya menulis seperti dia ‘memperlihatkan’
kepada saya. Apa yang saya dengar dari dia, apa yang saya lihat. Saya tidak
bisa menulis tentang Soekarno, apa yang tidak saya lihat.
Seandainya dia jual negara ini, mungkin saja. Di luar pengetahuan saya.
Kalau dia misalnya mencuri, mungkin. Ini aku nggak tahu. Juga kalau saya
menulis tentang Beek. Seperti saya juga menulis tentang Harto, saya juga
melihat Harto dari (cara) ini. Saya menulis apa adanya menurut penglihatan dan
pendengaran saya. Tapi kalau menurut orang-orang dan kejadian-kejadian itu
ternyata lain, mungkin benar. …Tentang Soekarno. Saya melihat Soekarno dalam
berbagai dimensi. Sebagai pemimpin, sebagai manusia.
Totaliter? Apa dia totaliter? Waktu dia mendesak saya sebagai menteri, the
first moment saya berbicara empat mata dengan dia, saat itu mungkin dia bisa
otoriter. Tapi, selama saya dekat dengan beliau, mungkin saya satu-satunya
orang
Indonesia
yang bisa omong tentang segala hal, yang enak, yang tidak enak, yang mungkin
menyinggung. Dia tak pernah marah. Satu hal. Dengan Soekarno, kita bisa
berdebat tentang segala hal, asal tidak mau diketahui bahwa dia kalah dari
kita. Kalau empat mata dia mau. Tapi, kalau
ada lain orang, dia mintanya mau menang. Dia ndak mau dipermalukan di depan
orang lain. Kalau sendiri dia sangat demokratis. Kalau kita berani, dia akan
menghormat kita. Dia seperti psikolog. Maunya menguji jiwa orang. Dan ternyata,
sewaktu dia keras, otoriter terhadap saya, saya pikir, oh dia ini mau menguji.
Supaya dari sejak semula, sudah ditanamkan dalam benak saya, "I’m your
boss." Tapi, kalau dia totaliter dalam soal lain, saya tidak tahu. Nyamuk,
dia ndak mau dimatikan. Dia tidak mau melihat life itu dimatikan. Seperti orang
Budha. Dia ndak rela darah
Indonesia
mengalir.
Lebih baik turun sebagai presiden. Kalau kita untuk mendesak dia, dia hanya
menggigiti kukunya. Dan saya tidak tega mendesak dia lebih jauh. Totaliter?
…Prof. Lev menulis pada saya, "Pak Oei selalu berbicara
tapol/napol, seolah-olah di jamannya Soekarno tidak ada tapol." Saya
jawab, "ada." Tapol Soekarno dengan tapol Orde Baru, lain. Saya belum
pernah ditahan Orla. Tapi, Almarhum Mayor Soemardjo, komandan Kam di Nirbaya,
komandan Kam Sarangan, dia cerita pada saya, "tapol Soekarno itu - seperti
Mohtar Lubis - boleh keluar dasn dipilah-pilah, lux. Hawanya enak, lalu
makanannya semua dari restoran. Rokoknya Dunhill, Lucky Strike."
Soemardjo, setiap sepuluh hari harus lapor ke
Jakarta
.
Tiap kali dia ke istana, dia digertak oleh Soekarno, "kamu apakan
orang-orang itu? Makanannya bagaimana? Awas, ini orang-orang bukan penjahat.
Orang-orang ini, kalau terjadi perubahan-perubahan politik, ini
pemimpin-pemimpinmu. Yang kuasa itu mereka. Mereka kami tahan karena menyabot
politik kita. Mereka cuma berbeda paham politik. Jadi kamu mesti hormat pada
mereka." Kalau kita di Nirbaya, radio, koran semua nggak boleh masuk.
Bahkan, permulaannya hanya Al’quran dan Injil yang boleh masuk. Buku-buku
teologi muslim tidak. Teologi Kristen tidak. Di Sarangan, Anak Agung Gede Agung
jadi sarjana, karena buku-buku pengetahuan dimasukkan berpeti-peti. Mereka
boleh naik kuda dengan radius 10 km, asal tidak mempengaruhi penduduk di
sana
.
Saya tulis pada Lev, "lain, dong."
Cukup. Cukup sampai di sini. Masih banyak sebetulnya yang perlukami
gali dari orang ini. Memang seperti yang dikatakannya sendiri, pengalamannya
adalah sangat subyektif untuk kami jadikan bahan rekonstruksi sejarah. T api,
kami memang tidak berpretensi untuk merekonstruksi sejarah. Sejarah punya ceritanya
sendiri, punya jalannya sendiri yang jauh lebih kompleks dari sekedar data-data
statistik dan momen-momen tertentu yang setiap saat diperingati. Tak peduli ada
pihak-pihak yang ingin merekayasa dan menafsirkannya secara sepihak. Kami
justru ingin melihat, semangat jaman dari masing-masing subyek yang ‘hadir’ dan
ikut andil dalam pembentukan sejarah itu. Kami butuh ‘rasa’ -tak ada sejarah
yang bergerak tanpa rasa - untuk mewarnai kusamnya sejarah kita kini yang serba
materialistis, instant dan teknokratis. Yang tidak mungkin kami peroleh dari
‘obyektifitas’ tapi justru dari dialog tanpa henti dengan berbagai macam
’subyektifitas’. Mungkin saja, dari berbagai dialog ini akan muncul tersamar
wajah obyektifitas. Mungkin.]***
Entries (RSS)