Inti Sari Siu Tao
Belajar Tao / Siu Tao (
), memang bukan merupakan suatu masalah yang
mudah, begitu banyak pengertian yang harus diserap, namun lebih penting lagi
yaitu begitu banyak pengeritan itu yang harus dijalani. Tanpa melaksanakan
pengertian-pengertian yang baik itu, merupakan suatu yang sia-sia. Sering kali
terjadi, setelah sekian lama kita merasakan dan menikmati semerbak harumnya,
barulah kita menyadari dan mengerti akan keagungan dan kemuliaannya secara
lebih mendalam.
Tao (
) dengan kekuatannya tidak terlihat dan tidak
terasa telah mengubah sifat manusia, Tao menghendaki umatnya berlatih diri,
mengenal diri, dan selalu mawas diri. Menjadikan umat manusia mau meninggalkan
yang kurang baik, serta memupuk budi luhur masing-masing.
Proses ini mungkin amat sulit untuk diikuti perkembangannya, bahkan harus
melalui hari-hari yang panjang dalam kehidupan ini, serta membutuhkan keyakinan
yang tebal serta keuletan yang tinggi. Kalau tidak, pasti akan gagal ditengah
jalan. Untuk menuju sukses masih jauh sekali jarak yang harus kita tempuh.
Jadi secara garis besar Inti Sari
Siu Tao (
![]()
![]()
) adalah merevisi diri, menghilangkan
kelemahan-kelemahan diri kita, serta memupuk sifat-sifat mulia.
Objek Siu Tao adalah "Diri
kita masing-masing", bukan orang lain.
Manusia merupakan makhluk hidup
yang "Unik", mempunyai perbedaan-perbedaan yang begitu kompleks, yang
seringkali bahkan diri sendiri pun sulit untuk memahami. Namun secara umum, ada
beberapa sifat-sifat yang telah diketahui oleh manusia, sehingga kita masih
dapat menyimpulkan sifat mana yang harus dikikis, dan sifat mana yang harus
dipupuk, sesuai dengan ajaran Tao, seperti yang dijelaskan di atas.
Beberapa sifat yang harus dikikis
dari kehidupan kita:
Kesombongan
Apabila kita mempunyai "kelebihan" dibandingkan orang lain, merupakan
suatu hal yang wajar apabila kita merasa bangga, namun antara bangga dan
sombong seringkali hanya dibatasi oleh benang tipis. Di dalam kitab suci Dai
Sang Law Cin mengatakan : Membanggakan diri sering datangkan rugi,
merendahkan diri tak hilang apapun sejari, Kalau pandai jangan menonjolkan
diri, yang pandai berilmu tinggi biasanya seperti terendah tak kuat berdiri.
Membanggakan diri yang berlebihan (sombong), hanya akan memuaskan ambisi kita,
namun tidak menambah apapun dalam diri kita.
Dendam
Di dalam perjalanan hidup manusia, ada pepatah yang mengatakan banyak manusia,
menimbulkan banyak masalah. Di sini jelaslah bahwa di dalam hidup
bermasyarakat, akan banyak timbul gesekan-gesekan dengan orang lain.
Bagaimanakah seharusnya kita sebagai seorang umat Tao dalam menghadapi masalah
ini? Setiap masalah yang timbul, seharusnya diselesaikan secara bijaksana,
mengikuti peraturan dan kesepakatan di dalam masyarakat. Dengan demikian
permasalahan diharapkan bisa diselesaikan dengan baik. Apabila di dalam hati
kita selalu timbul rasa dendam, maka persoalan akan "tidak pernah
selesai", dan selalu menjadi ganjalan di dalam hati, maka hati kita
pun tidak pernah "tentram dan tenang". Apalagi bila hal ini
dihubungkan dengan kenyataan bahwa orang Tao mempunyai Fak, makin tinggi Tao
seseorang, maka makin tinggi pula Fak nya. Kalau masih mempunyai rasa dendam,
mana mungkin Tao nya bisa tinggi?
Egois
Di dalam Dai Sang Law Cin Cen
Cing mengatakan : Menolong orang lain, haruslah menolong diri sendiri
dahulu.
Ini bukan berarti mengajarkan
kita untuk hanya mementingkan diri sendiri (Egois). Sebenarnya berapa banyak
yang dapat kita nikmati sendiri? Makan tiga kali sehari, berganti baju dua kali
sehari, tidur tujuh jam sehari, apakah itu tidak cukup bagi kita? Mengapa kita
tidak menyisihkan waktu dan kemampuan serta kelebihan harta kita bagi orang
lain? Bagi keluarga kita, bagi saudara kita, dan bagi masyarakat luas.
Kecemasan yang berlebihan
Suatu hal yang wajar manusia
mempunyai rasa cemas, begitu banyak hal yang tidak kita ketahui, cemas terhadap
keadaan keluarga kita, kesehatan kita, pekerjaan kita, dan banyak lagi
kecemasan-kecemasan lainnya. Namun apakah hanya dengan kecemasan saja semuanya
akan berubah? Di dalam Dai Sang Law Cin Cen Cing berkata : Hidup selalu banyak
rintangan, Dapat berpikir adalah bawaan manusia, Bebas duniawi berarti sudah
habis nyawanya, Mengerti Tao buah pikiran terbuka, Buanglah kecemasan dan
nyanyilah lagu-lagu Tao, Siu Tao hingga dapat berdialog dengan Dewa-Dewa,
Dewa-Dewa tentu lebih perhatian pada kita. Sedang di dalam Fuk Tek Cen Shen Cen
Cing mengatakan: Fuk Yu Thien Sang Lai, Tek Yu Shin Cong Jie (Rejeki diberi
oleh Tuhan, Moral timbulnya dari sanubari).
Disini jelaslah bahwa hanya
dengan Siu Tao (menjalankan ajaran Tao), banyak berbuat kebajikan, mempunyai
moral yang tinggi, berusaha dan berpikir untuk mengatasi rintangan hidup, maka
secara nyata kehidupan kita selalu akan dilindungi, kalau demikian, mengapa
masih selalu merasa cemas?
Tentu saja masih ada sifat-sifat
lainnya yang harus dikikis, tapi akan kita bicarakan pada lain kesempatan.
Sekarang kita membicarakan
beberapa sifat yang harus dipupuk di dalam kehidupan kita:
Welas Asih
Sudah sama-sama kita mengerti dan
ketahui bahwa: Dai Sang Cui Yu Jing (Dai Sang Law Cin sangat Welas Asih),
kita sebagai umatnya tentu harus mengerti hal ini, harusnya kita jadikan
teladan di dalam hidup kita. Welas asih adalah sifat yang sangat mulia, selalu
berbuat demi meringankan penderitaan umat manusia.
Lapang dada
Di dalam Tao Tek Cing ciptaan Law
Ce, menyebutkan yang kira-kira artinya demikian: Manusia bijak seperti air
danau yang dalam, begitu tenang dan bening, seolah apapun yang dilemparkan ke
danau itu, tertelan begitu saja, airnya tetap tenang dan jernih. Justru
karena ia bisa menerima apa yang tidak bisa diterima orang lain, menunjukkan
ketinggian Tao-nya. Ini menunjukkan manusia seharusnya bisa lapang dada, bisa
menerima hal-hal yang mungkin menyakitkan (Kritik, saran, salah paham, dll),
dengan begitu maka Tao-nya akan menjadi lebih tinggi.
Kejujuran
Meskipun ajaran Tao mengharuskan
kita fleksibel, tapi bukan berarti kita harus mengorbankan kejujuran. Kitab
Suci Erl Lang Shen mengatakan: Tao timbul dari arus kejujuran yang agung dan
mulia. Dari alamiah, asal alamiah, menuntun umat manusia ke jalan yang benar di
dunia. Mungkin kita bisa membohongi orang lain, namun kita tidak dapat
mengingkari hati nurani kita. Dan itu tidak sesuai dengan ajaran Tao.
Demikian yang ingin saya
sampaikan pada hari ini, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi perjalanan Siu Tao
kita.
Cerita ilustrasi:
Zhang Liang menunjukkan rasa
hormat kepada seorang Tua dan mendapatkan sebuah buku pegangan yang luar biasa.
Zhang Liang adalah seorang pintar
yang rendah hati, dan sopan santun, ayahnya adalah seorang Perdana Menteri
negara Han, di daerah yang sekarang disebut
Korea
.
Ketika Qin menghancurkan Han, ia
melarikan diri, dan berencana untuk kembali meneruskan negara Han. Pada suatu
hari, setelah belajar, ia beristirahat dan menyusuri sebuah aliran sungai,
tibalah ia pada sebuah jembatan yang di atasnya sedang duduk seorang tua, pada
saat ia sudah dekat, orang tua itu menjatuhkan sepatunya ke tepi sungai, dan
dengan seenaknya ia menyuruh Zhang Liang mengambilkan sepatunya.
Meskipun ia merasa dongkol, namun
ia merasa ia harus menghormati orang yang lebih tua, maka ia mengambilkan sepatu
itu. Setelah sepatu itu ia serahkan, orang tua itu bahkan menyuruhnya
memakaikan sepatu itu, tapi ia tetap dapat mengendalikan emosinya, dan berpikir
bahwa ia telah mengambilkan sepatunya, apa salahnya ia memakaikannya? Kemudian
orang tua itu pergi sambil berkata: kamu sangat menghargaiku, kembalilah
lima
hari lagi, temui saya
pagi-pagi di sini.
Lima
hari lagi Zhang Liang datang ke jembatan itu, tapi orang tua itu sudah duduk di
sana
, lalu ia berkata, kamu terlambat, datanglah
lima
hari lagi,
karena saya telah menunggumu lama sekali.
Lima
hari kemudian, Zhang Liang kembali ke tempat itu lebih pagi, namun kembali
orang tua itu telah duduk di
sana
, lagi-lagi
orang tua itu berkata: kamu terlambat, datanglah
lima
hari lagi.
Maka
lima
hari kemudian, tengah malam Zhang Liang
tidak tidur, ia langsung ke jembatan itu, langit masih gelap dan dingin, ia
berhasil datang lebih dulu daripada orang tua itu. Orang tua itu kemudian
memberinya sebuah buku strategi perang yang telah lama hilang, dan berkata pada
Zhang Liang, bahwa ia akan mencapai sukses hidup dengan buku itu. Setelah
mempelajari buku itu, suatu hari kemudian Zhang Liang menjadi menteri pendiri
dinasti Han, dan sangat terkenal dengan taktik perangnya.
Ilustrarsi cerita ini memberikan
kepada kita suatu makna:
Bahwa dengan kecerdasan,
kerendahan hati, sopan santun, dan lapang dada, Zhang Liang mendapatkan Jalan
untuk mencapai cita-citanya.
Cerita kedua :
Cai Yong menerima Wang Can
dengan memakai sepatu terbalik
Cai Yong, penulis dan sarjana
yang sangat ternama, menjabat sebagai pejabat tinggi selama pemerintahan kaisar
Han Xian pada periode Tiga Kerajaan.
Dia sangat mengagumi Wang Can,
seorang muda berbakat yang sering ia dengar namanya disebut orang.
Wang Can adalah seorang yang
mempunyai kemampuan berbahasa yang luar biasa, dengan kata-katanya ia banyak
menolong orang lain, misalnya merukunkan keluarga yang terpecah, dll. Suatu
hari Cai Yong mengundang Wang Can untuk suatu resepsi, dan pada saat Wang Can
tiba, disana telah banyak tamu, setelah tahu Wang Can tiba, dengan tergesa-gesa
Cai Yong menyambutnya dengan memakai sepatunya secara terbalik.
Para
tamu yang lain menjadi heran, dan berpikir bahwa tamu yang disambut pasti
bukanlah orang sembarangan. Tapi menjadi bingung ketika melihat yang disambut
adalah seorang muda dengan penampilan yang sangat sederhana. Bahkan mulai
sinis, karena Cai Yong adalah pejabat tinggi, mengapa begitu menaruh hormat
pada Wang Can?
Namun setelah mengetahui bahwa
Wang Can memang seorang yang rendah hati dan mempunyai pengetahuan yang luas,
mereka tidak lagi menyalahkan Cai Yong yang salah memakai sepatunya, bahkan
menghargai betapa Cai Yong memperlakukan tamunya dengan hormat.
Makna cerita :
Seseorang dinilai dari
kepribadiannya dan kemampuannya, bukan dari penampilan luarnya.
Entries (RSS)