Cinta dalam kotak kardus
bekas

“Telah begitu lama
aku merasa bahwa dunia sekitarku sudah ditelan oleh keserakahan arus
egoisme.”Demikian seorang teman yang bekerja di toko seven eleven di samping
gerejaku memulai kisahnya. “Telah lama saya merasa bahwa hati manusia kini
telah berubah dingin dan beku. Tapi sebuah peristiwa yang terjadi beberapa
tahun kemarin telah membuktikan bahwa pandanganku di atas adalah kesimpulan
yang salah.”

“Saat itu sebagaimana biasanya, aku sibuk seharian melayani setiap orang yang
datang ke toko ini. Tak terasa sudah pukul 1.30 pagi hari. Ketika saya hendak
menutup toko untuk kembali, terdengar bell otomatik berdering. Tanpa mengangkat
muka, dalam hati aku mengumpat; “Huh…dasar kelelawar dan kucing malam. Sudah
jam begini tak pulang ke rumah tapi berkeliaran sepanjang malam.¡¦ Namun ketika
aku mengangkat wajahku, kudapati seorang gadis cilik kira-kira berumur 15
tahun. Kedua tangannya mengangkat selembar kertas tertulis; “Aku tak dapat
berbicara. Bolehkah engkau membantu aku?”

“Ternyata gadis cilik ini membutuhkan kotak kardus bekas dan meminta agar saya
mengumpulkan kotak-kotak karton kardus untuk diberikan kepadanya. Tanpa banyak
bertanya maksudnya, saya lalu menganggukan kepala menyetujui permintaannya. Dan
sejak itu, setiap hari jam 1.30 di pagi buta sang gadis cilik ini akan datang
mengumpulkan kotak-kotak tersebut.”

“Setelah beberapa minggu, ternyata aku telah menjadi sahabatnya. Suatu saat,
dengan penuh rasa ingin tahu, saya mengambil sebatang pensil dan menuliskan
pertanyaan di atas secarik kertas; “Mengapa engkau mengumpulkan kotak-kotak
bekas ini? Apakah orang tuamu tak akan merasa cemas membiarkan engkau berjalan
sendirian pada jam begini?¡¦ Tak kusangka…pertanyaanku ternyata seakan sebuah
kunci keran yang membuka pipa air matanya. Air matanya mengalir tanpa henti,
melepaskan semua beban yang selama ini bercokol dalam hatinya.”

“Oh…Tuhanku. Betapa besar derita yang harus ditanggung gadis cilik ini. Saat
ini ia berumur 16 tahun. Sebelum ibunya melahirkan adiknya, ayah telah
meninggalkan mereka menuju dunia abadi. Dan sang ibu?? Tak berapa lama setelah
adiknya tidak menyusui lagi, sang ibu meninggalkan mereka entah ke mana
perginya. Gadis cilik yang bisu ini harus berusaha menghidupkan dirinya sendiri
serta adiknya yang masih kecil. Tak ada pekerjaan lain yang bisa ia lakukan
kecuali mengumpulkan kotak bekas untuk dijual. Pedih hatiku mendengar kisah
gadis kecil yang tak menyerah pada kerasnya tuntutan hidup ini. Sejak saat itu,
setiap hari aku akan mengisi sejumlah roti dalam kotak tersebut, cukup untuk
memenuhi kebutuhan mereka akan rejeki sehari itu. Tak lupa saya masukan minuman
ke dalam kotak yang sama. Di samping itu setiap hari saya tak pernah berhenti
mencoba mencari pihak yang bisa memberikan bala bantuan.”

“Sudah beberapa hari, sang gadis cilik ini tak pernah datang lagi. Tentu saja
ada kepedihan memenuhi bathinku memikirkan kemungkinan mala petaka yang terjadi
atas diri mereka. Apakah mereka dalam keadaan selamat? Ataukah mereka sedang
sakit? Dan…Oh Tuhan, mengapa aku tak meminta alamat tempat tinggalnya? Aku
tak tahu di mana ia tinggal dan tak bisa mengunjunginya.”

“Dalam situasi yang demikian, saya bersiap meninggalkan toko tersebut. Dan di
depan pintu, ada sepucuk

surat

.
“Kak, terima kasih berlimpah atas bantuanmu selama ini. Aku dan adikku sudah
menjadi anak angkat dari sebuah keluarga yang baik. Saat ini hidup kami telah
berubah. Sekali lagi terima kasih berlimpah.¡¦ Sepucuk

surat

yang singkat. Namun setelah membaca

surat

tersebut, tak
terasa air mataku jatuh tak tertahankan. Bukan kesedihan, tetapi itu adalah air
mata keharuan. Ternyata Cinta masih memiliki tempat di bumi. Terima kasih Tuhanku.”

Leave a Reply