Tayangan di Tabung Kaca
(diambil dr DETIK.COM)
Indira Permanasari
Asih,
warga Cililitan, Jakarta Timur, mau tak mau resah juga oleh tayangan di
televisi. Perempuan berusia 30-an tahun itu mempunyai putra, Tian, yang
berusia 4 tahun 6 bulan, yang gesit dan mulai banyak bertanya.
Sekarang
ini, kata dia, isi siaran televisi makin aneh-aneh saja. "Apalagi
acara-acara mistis yang kian banyak. Saya bingung ketika harus
menjelaskan kepada anak saya tentang hantu-hantu itu," kata Asih.
Anaknya yang aktif itu juga hafal berbagai lagu percintaan yang
mewarnai berbagai sinetron dan jingle iklan. Bahkan, tak jarang ia
menirukan gaya para ranger sang jagoan di televisi.
Tak
dapat dihindari, televisi sudah menjadi salah satu "anggota keluarga"
Asih. Di luar kegiatan sekolah, makan, bermain dan tidur, minimal 4 jam
dalam sehari Tian menghabiskan waktunya bersama televisi. Artinya,
dalam sebulan 120 jam atau 1.416 jam setahun ia duduk di depan pesawat
televisi.
Asih
bersyukur Tian masih mau menuruti aturan yang ia buat; harus sudah
tidur sebelum larut malam. "Acara seperti SmackDown yang heboh itu
untungnya tidak dia tonton," kata Asih.
Keluhan
terhadap tayangan televisi kian marak seiring pertumbuhan stasiun
televisi. Saat ini ada 11 stasiun televisi yang siaran secara nasional
dengan sekitar 280-an program dalam satu hari. Yang banyak dikeluhkan
antara lain tayangan yang berbau kekerasan, mistis, pornografi,
eksploitasi terhadap orang miskin, dan yang berbau seks.
Bayangan
terhadap dampak tayangan-tayangan demikian memang mengerikan. Salah
satunya diungkapkan oleh Brandon Centerwall dari University of
Washington. Dalam artikelnya yang dipublikasikan tahun 1992 dalam
Journal of the America Medical Association, Brandon mengingatkan bahwa
sejak pengenalan televisi kepada publik Amerika Serikat pada tahun
1950-an telah meningkatkan angka pembunuhan.
Salah
satu kutipannya yang terkenal ialah "if, hypothetically, television
technology had never been developed, there would today be 10,000 fewer
murders each year in the United States, 70,000 fewer rapes, and 700,000
fewer injurious assaults."
Ribuan
kilometer dari Jakarta, tepatnya di Singapura—yang semakin kosmopolitan
itu, kekhawatiran serupa juga hadir. Permasalahannya tetap pada
bagaimana agar tegangan antara pertumbuhan industri media dan
kepentingan publik atau masyarakat akan lingkungan bisa tumbuh dan
memberi andil terhadap perkembangan yang sehat bagi anak.
Chris
Chia, Executive Officer Media Development Authority Singapura,
mengatakan bahwa salah satu fungsi dari lembaga yang dipimpinnya itu
pada intinya untuk mendukung perkembangan industri media di Singapura.
Industri media tersebut mencakup lima area, yaitu film, televisi,
publikasi, games, dan animasi. Lembaga itu berpengaruh untuk
menciptakan lingkungan regulasi bagi pengguna atau penonton program.
Untuk
mereduksi pengaruh buruk siaran atau tayangan, beberapa tahun ini telah
ada upaya mengklasifikasi produk film dan video. Klasifikasi itu
dikejakan dengan bantuan dari kelompok industri besar, terdiri atas
sekitar 60 orang yang merepresentasikan berbagai kelompok komunitas
berbeda. Sejauh ini mereka telah mampu mengklasifikasikan beberapa ribu
film per tahun dan sekitar 25.000 video per tahun. Ribuan film dan
video itu umumnya dibuat di luar Singapura.
"Setiap
tayangan yang masuk akan diklasifikaskan dan diberi kode contohnya,
tontonan untuk penonton umum, kelompok 16 tahun, kelompok 18 tahun,
atau kelompok 21 tahun. Bagaimana klasifikasi itu akan bekerja, akan
bergantung pula pada ras dan religi, sehingga kami juga
mempertimbangkan dan memerhatikan hal itu. Sepanjang materinya tidak
menimbulkan permasalahan, maka akan lolos," katanya.
Terdapat
pula program yang mempromosikan kepentingan sosial masyarakat dan
menciptakan kehidupan harmoni berbangsa, tetapi juga menarik untuk
disaksikan masyarakat. Program Public Service Broadcasting tersebut
didanai dari iuran surat izin kepemilikan alat penyiaran, seperti
televisi dan radio, yang dibayarkan masyarakat atau biasa disebut TV
and Vehicle Radio License. Besaran iuran 27-110 dollar Singapura.
Dana
itu dimanfaatkan untuk mengembangkan program yang kurang komersial
sehingga butuh dukungan dana. Acara dikemas informatif dan edukatif:
mulai dari program berita, pendidikan, kultur, bahasa, dan acara
anak-anak. "Kami memproduksi sekitar 3.000 jam tayangan dalam setahun.
Ada juga yang dapat dijual ke negara lain karena sifatnya dokumenter
dan banyak diminati," katanya.
Menurut
Chia, sangat penting untuk mendidik masyarakat pemirsa. Masyarakat,
terutama yang masih muda dan dididik saat ini akan menjadi penonto
Entries (RSS)